Mahasiswa masuk ke dalam suatu Universitas bukanlah hanya untuk mengejar gelar agar mudah mendapatkan pekerjaan setelah wisuda. Menurut sebagian besar masyarakat menyebut mahasiswa adalah orang yang serba bisa, serba tahu berbagai persoalan yang muncul dalam masyarakat. Hal ini menjadikan mahasiswa sebagai kaum elit dan terhormat dibanding dengan kaum muda lainnya. Membaca, diskusi, menulis, dan sosialisasi merupakan kewajiban yang tak bisa ditinggalkan seorang yang berstatus mahasiswa. Selain itu, mahasiswa memiliki tugas yang sangat penting yaitu, mahasiswa adalah agent of change dalam suatu bangsa dan juga mahasiswa merupakan jembatan penghubung aspirasi masyarakat ke pemerintah. Peran serta dalam menyumbangkan ide dan tenaga dalam mengubah kondisi sosial pun kewajiban bagi mahasiswa.

Menurut berbagai sumber, mahasiswa dibagi beberapa tipe yang mewakili kepribadian manusia. Mahasiswa bisa dibagi kedalam 4 tipe yaitu: Tipe pertama, mahasiswa akademis (mahasiswa yang berorientasi pada akademis). Tipe kedua, mahasiswa romantis (mahasiswa yang selalu tampil nyentrik demi menggaet lawan jenis). Tipe ketiga, mahasiswa hedonis (mahasiswa yang suka senag-senang atau hedon). Tipe keempat, mahasiswa organisatoris (mahasiswa yang selalu sibuk dengan dunia organisasi ). Dari tipe-tipe tersebut, kamu termasuk kategori yang mana? Seperti kita ketahui, mahasiswa dikenal dengan idealismenya. Idealisme hanya dimiliki saat menjadi mahasiswa tapi tidak semua mahasiswa, melainkan mahasiswa yang sadar akan dirinya sebagai agent of change. Idealisme seorang mahasiswa bisa ditumbuh dengan bergabung pada suatu organisasi. Yang mana tujuan pendirian organisasi antara lain, demi menumbuhkan idealisme, kepekaan sosial, atau ghirah intelektual. Namun sayang banyak mahasiswa berbondong-bondong masuk organisasi tertentu, baik intra maupun ekstrakampus. Tapi mereka berorganisasi cuma sebatas berorganisasi, Alasan kenapa dan buat apa ia berorganisasi tak menjadi bahan perenungan yang berarti. Organisasi yang dimasukinya itu seakan dikebiri menjadi sekadar ajang pertemanan, komunitas gaul, dan tempat kumpul pegiat hedonisme.

Memang sih masih ada segelintir mahasiswa yang menyadari bahwa tujuan dia berorganisasai tapi terkadang tumbuhnya fanatisme berlebihan terhadap organisasi masing-masing menciptakan sebuah perpecahan di antara mahasiswa, terlebih dengan tertanamnya mental sentimen antarorganisasi mahasiswa. Kita terkotak-kotak sehingga sulit untuk menyatukan tujuan dan pemikiran. Seolah meniru panasnya perpolitikan di pemerintahan,persoalan jabatan di organisasi kemahasiswaan pun kerap menjadi pemecah persatuan dan kesatuan mahasiswa. Buruknya, untuk menjatuhkan lawan, segala cara dilakukan untuk membunuh karakter lawan politiknya. Entah apa yang mendasari keinginan meraih jabatan di organisasi kemahasiswaan, sehingga ujung-ujungnya menimbulkan konflik di internal organisasi. Bagaimana mengurusi rakyat, bila internal organisasi pun tak bisa diurus dengan baik.

Di balik itu semua, jika merujuk pada realita yang terjadi pada kebanyakan mahasiswa saat ini yang berpikir bahwa tugas mereka sebagai mahasiswa hanya belajar agar mudah memperoleh pekerjaan, barangkali itulah penyebab banyaknya sarjana pengganguran merendahkan diri mengemis pekerjaan saat ini. Bisa jadi diakibatkan pemikiran mereka yang salah tentang kewajiban mereka selama masih berstatus mahasiswa. Karena jika seorang mahasiswa hanya terfokus pada pelajaran yang diterima nya selama di kampus tanpa membekali diri dengan berorganisasi bahkan mulai berwirausaha dan menambah ketrampilan khusus di luar pelajaran di Perguruan Tinggi sehingga menjadi nilai lebih ketika menjadi seorang sarjana. Tentu ilmu yang didapat dari bangku kuliah sangatlah sedikit, dan juga menurut pengalaman yang saya tahu bahwa hanya sebagian kecil saja ilmu yang didapat dari bangku kuliah itu diterapkan di dalam dunia kerja. Maka oleh karena itu sebagai seorang mahasiswa, harusnya kita cepat tanggap, dengan persaingan kerja saat ini dapat menjadi alarm bagi kita untuk membekali diri sebelum keluar dari dunia perkuliahan. Karena kita bukan hanya untuk mengejar gelar sarjana dalam menyelesaikan masa studi mahasiswa untuk mendapat gelar sarjananya itu yang penting adalah PROSES untuk mendapatkan gelar itu bukan hanya dia telah lulus cepat  mata kuliah yang diambilnya tetapi proses pembentukan pola pikir menjadi seorang yang terdidik, dan pembentukan pola pikir ini tidak diajarkan di dalam mata kuliah.

Sumber: http://www.kompasiana.com/suryono.briando/bukan-hanya-untuk-mengejar-gelar_550e3a91a33311a32dba80de

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

96 − = 93

Post Navigation